<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Pramulya's Blog</title>
	<atom:link href="http://pramulya.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pramulya.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sat, 31 Jul 2010 16:51:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='pramulya.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Pramulya's Blog</title>
		<link>http://pramulya.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://pramulya.wordpress.com/osd.xml" title="Pramulya&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://pramulya.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Uwais Al Qarni</title>
		<link>http://pramulya.wordpress.com/2010/07/31/uwais-al-qarni/</link>
		<comments>http://pramulya.wordpress.com/2010/07/31/uwais-al-qarni/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Jul 2010 16:46:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pramulya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pramulya.wordpress.com/?p=98</guid>
		<description><![CDATA[Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli membaca Al Qur’an dan menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pramulya.wordpress.com&amp;blog=6659662&amp;post=98&amp;subd=pramulya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya  merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya  kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada tempat  sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli membaca Al  Qur’an dan menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut yang satu  untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan, tiada orang yang  menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat  terkenal di langit. Dia, jika bersumpah demi Allah pasti terkabul. Pada  hari kiamat nanti ketika semua ahli ibadah dipanggil disuruh masuk  surga, dia justru dipanggil agar berhenti dahulu dan disuruh memberi  syafa’at, ternyata Allah memberi izin dia untuk memberi syafa’at  sejumlah qobilah Robi’ah dan qobilah Mudhor, semua dimasukkan surga tak  ada yang ketinggalan karenanya. Dia adalah “Uwais al-Qarni”. Ia tak  dikenal banyak orang dan juga miskin, banyak orang suka menertawakan,  mengolok-olok, dan menuduhnya sebagai tukang membujuk, tukang mencuri  serta berbagai macam umpatan dan penghinaan lainnya.</p>
<p>Seorang fuqoha’ negeri Kuffah, karena ingin duduk dengannya, memberinya  hadiah dua helai pakaian, tapi tak berhasil dengan baik, karena hadiah  pakaian tadi diterima lalu dikembalikan lagi olehnya seraya berkata :  “Aku khawatir, nanti sebagian orang menuduh aku, dari mana kamu dapatkan  pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari mencuri”. Pemuda dari  Yaman ini telah lama menjadi yatim, tak punya sanak famili kecuali  hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya penglihatan kabur  yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais  bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup  untuk sekedar menopang kesehariannya bersama Sang ibu, bila ada  kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin  dan serba kekurangan seperti keadaannya.</p>
<p>Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh  dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan  puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya Uwais al-Qarni telah  memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar seruan Nabi Muhammad  SAW. yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan  Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya. Islam mendidik setiap  pemeluknya agar berakhlak luhur. Peraturan-peraturan yang terdapat di  dalamnya sangat menarik hati Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang  di negeri Yaman, ia segera memeluknya, karena selama ini hati Uwais  selalu merindukan datangnya kebenaran. Banyak tetangganya yang telah  memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad  SAW secara langsung. Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui rumah  tangga mereka dengan cara kehidupan Islam. Alangkah sedihnya hati Uwais  setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka itu  telah “bertamu dan bertemu” dengan kekasih Allah penghulu para Nabi,  sedang ia sendiri belum.</p>
<p>Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk  bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang  cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang ibu yang  jika ia pergi, tak ada yang merawatnya Di ceritakan ketika terjadi  perang Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera dan giginya patah karena  dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Kabar ini akhirnya terdengar oleh  Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut  dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada beliau SAW, sekalipun ia  belum pernah melihatnya.</p>
<p>Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung  membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan  diri dan bertanya dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan  memandang wajah beliau dari dekat ? Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang  sangat membutuhkan perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri,  hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa.  Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi  hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi  menziarahi Nabi SAW di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa  terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau memaklumi perasaan  Uwais, dan berkata : “Pergilah wahai anakku ! temuilah Nabi di rumahnya.  Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang”. Dengan rasa  gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan  ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar  dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpamitan sambil  menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak  kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman. Medan yang begitu ganas  dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun  pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari,  serta begitu dingin di malam hari, semuanya dilalui demi bertemu dan  dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi SAW yang selama ini  dirindukannya.</p>
<p>Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi  SAW, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah  sayyidatina ‘Aisyah r.a., sambil menjawab salam Uwais. Segera saja Uwais  menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW tidak  berada di rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati  sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak  berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu  kedatangan Nabi SAW dari medan perang. Tapi, kapankah beliau pulang ?  Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan  sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman,” Engkau harus lekas  pulang”. Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah  mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan  Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada sayyidatina  ‘Aisyah r.a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya menitipkan  salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan perasaan haru.</p>
<p>Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang kedatangan  orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Uwais  al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit  (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda Rosulullah SAW,  sayyidatina ‘Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun. Menurut  informasi sayyidatina ‘Aisyah r.a., memang benar ada yang mencari Nabi  SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan  sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.</p>
<p>Rosulullah SAW bersabda : “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais  al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah  telapak tangannya.” Sesudah itu beliau SAW, memandang kepada sayyidina  Ali k.w. dan sayyidina Umar r.a. dan bersabda : “Suatu ketika, apabila  kalian bertemu dengan dia, mintalah do’a dan istighfarnya, dia adalah  penghuni langit dan bukan penghuni bumi”.</p>
<p>Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga  kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. telah di estafetkan  Khalifah Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi  SAW. tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera  mengingatkan kepada sayyidina Ali k.w. untuk mencarinya bersama. Sejak  itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu  menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka.  Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya  yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua.</p>
<p>Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang  dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan  kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang  dari Yaman, segera khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. mendatangi  mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu  mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta  mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas  pergi menemui Uwais al-Qorni. Sesampainya di kemah tempat Uwais berada,  Khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. memberi salam. Namun rupanya  Uwais sedang melaksanakan sholat. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais  menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu  berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk  membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais,  sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW. Memang benar ! Dia  penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut, siapakah  nama saudara ? “Abdullah”, jawab Uwais. Mendengar jawaban itu, kedua  sahabatpun tertawa dan mengatakan : “Kami juga Abdullah, yakni hamba  Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?” Uwais kemudian berkata:  “Nama saya Uwais al-Qorni”.</p>
<p>Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal  dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah  dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali k.w. memohon agar Uwais  berkenan mendo’akan untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada  khalifah: “Sayalah yang harus meminta do’a kepada kalian”. Mendengar  perkataan Uwais, Khalifah berkata: “Kami datang ke sini untuk mohon do’a  dan istighfar dari anda”. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais  al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo’a dan membacakan  istighfar. Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan  uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera  saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata : “Hamba mohon supaya  hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya,  biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.</p>
<p>Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar  beritanya. Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh  Uwais , waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab  bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus  dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami sehingga  air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat. Pada  saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu  di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya. Lelaki itu  keluar dari kapal dan melakukan sholat di atas air. Betapa terkejutnya  kami melihat kejadian itu. “Wahai waliyullah,” Tolonglah kami !” tetapi  lelaki itu tidak menoleh. Lalu kami berseru lagi,” Demi Zat yang telah  memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!”Lelaki itu menoleh kepada  kami dan berkata: “Apa yang terjadi ?” “Tidakkah engkau melihat bahwa  kapal dihembus angin dan dihantam ombak ?”tanya kami. “Dekatkanlah diri  kalian pada Allah ! ”katanya. “Kami telah melakukannya.” “Keluarlah  kalian dari kapal dengan membaca bismillahirrohmaanirrohiim!” Kami pun  keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu  jumlah kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak  tenggelam, sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut.  Lalu orang itu berkata pada kami ,”Tak apalah harta kalian menjadi  korban asalkan kalian semua selamat”. “Demi Allah, kami ingin tahu,  siapakah nama Tuan ? ”Tanya kami. “Uwais al-Qorni”. Jawabnya dengan  singkat. Kemudian kami berkata lagi kepadanya, ”Sesungguhnya harta yang  ada di kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang  dikirim oleh orang Mesir.” “Jika Allah mengembalikan harta kalian.  Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di  Madinah?” tanyanya.“Ya,”jawab kami. Orang itu pun melaksanakan sholat  dua rakaat di atas air, lalu berdo’a. Setelah Uwais al-Qorni mengucap  salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami  menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami  membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak  satupun yang tertinggal.</p>
<p>Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah pulang  ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah  banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke  tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang  menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak  menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali  kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar  biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya. Dan Syeikh  Abdullah bin Salamah menjelaskan, “ketika aku ikut mengurusi jenazahnya  hingga aku pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk  kembali ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya,  akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah  bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais  al-Qorni pada masa pemerintahan sayyidina Umar r.a.)</p>
<p>Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman.  Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya  orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan  pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan  orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke  dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap  melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka  saling bertanya-tanya : “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorni  ? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak  memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan  unta ? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk  Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami  kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya.</p>
<p>Agaknya mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya  untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman  mengetahuinya siapa “Uwais al-Qorni” ternyata ia tak terkenal di bumi  tapi menjadi terkenal di langit.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pramulya.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pramulya.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pramulya.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pramulya.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pramulya.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pramulya.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pramulya.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pramulya.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pramulya.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pramulya.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pramulya.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pramulya.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pramulya.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pramulya.wordpress.com/98/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pramulya.wordpress.com&amp;blog=6659662&amp;post=98&amp;subd=pramulya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pramulya.wordpress.com/2010/07/31/uwais-al-qarni/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/30e407ff6fc41afc24cd0908479178c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pramulya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anakku yang kusayangi</title>
		<link>http://pramulya.wordpress.com/2010/03/27/anakku-yang-kusayangi/</link>
		<comments>http://pramulya.wordpress.com/2010/03/27/anakku-yang-kusayangi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Mar 2010 20:54:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pramulya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pramulya.wordpress.com/?p=93</guid>
		<description><![CDATA[Anakku yang kusayangi.. Pada suatu saat dikala kamu menyadari bahwa aku telah menjadi sangat tua, cobalah berlaku sabar dan cobalah mengerti aku Jika banyak makanan yang tercecer dikala aku makan….… Jika aku mendapat kesulitan dalam mengenakan pakaianku sendiri……… sabarlah ! Kenanglah saat-saat dimana aku meluangkan waktuku untuk mengajarimu tentang segala hal yang kau perlu tahu, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pramulya.wordpress.com&amp;blog=6659662&amp;post=93&amp;subd=pramulya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anakku yang kusayangi..</p>
<p>Pada suatu saat dikala kamu menyadari bahwa aku telah menjadi sangat tua, cobalah berlaku sabar dan cobalah mengerti aku</p>
<p>Jika banyak makanan yang tercecer dikala aku makan….… Jika aku mendapat kesulitan dalam mengenakan pakaianku sendiri……… sabarlah !</p>
<p>Kenanglah saat-saat dimana aku meluangkan waktuku untuk mengajarimu tentang segala hal yang kau perlu tahu, ketika kau masih kecil.</p>
<p>Jika aku mengulang mengatakan hal yang sama berpuluh kali, jangan menghentikanku! Dengarlah aku !</p>
<p>Ketika kau kecil, kau selalu memintaku membacakanmu cerita yang sama berulang-ulang, dari malam yang satu ke malam yang lain hinga kau tertidur. Dan aku lakukan itu untukmu !</p>
<p>Jika aku enggan mandi, jangan memarahiku dan jangan katakan kepadaku bahwa itu memalukan.<br />
Ingatlah berapa banyak pengertian yang kuberikan padamu menyuruhmu mandi dikala kecilmu.</p>
<p>Jangan tertawa melihat ketidak mengertianku terhadap teknologi, cukup berikan lebih banyak waktu lagi untuk membuatku mengerti</p>
<p>Aku mengajarimu banyak hal …. Cara makan yang baik……cara berpakaian yang baik…….berperilaku yang baik………..bagaimana menghadapi problem dalam kehidupan…..</p>
<p>Jika terkadang aku menjadi pelupa dan aku tidak dapat mengerti dan mengikuti pembicaraan, beri aku waktu untuk mengingat dan jika aku gagal melakukannya jangan sombong dan memarahiku, karena yang penting bagiku adalah….aku dapat bersamamu dan dapat berbicara padamu.</p>
<p>Jika aku tak mau makan, jangan paksa aku ! Aku tahu bilamana aku lapar dan kapan aku tak lapar.</p>
<p>Ketika kakiku tak lagi mampu menyangga tubuhku, untuk bergerak seperti sebelumnya…..Bantulah aku dengan cara yang sama ketika aku merengkuhmu dalam tanganku, mengajarimumelakukan langkah-langkah pertamamu……</p>
<p>Dan kala suatu saat nanti, ketika aku katakan padamu bahwa aku tak lagi ingin hidup…………, ketika aku ingin mati….., jangan marah…, karena pada saatnya nanti kau juga akan mengerti !Cobalah untuk mengerti bahwa pada usia tertentu, kita tidak benar-benar “hidup” lagi, kita hanya “tidak mati”.</p>
<p>Suatu hari kelak kau akan mengerti bahwa di samping semua kesalahan yang aku buat, aku selalu ingin apa yang terbaik bagimu dan bahwa aku siapkan dasar bagi perkembangan dan kehidupanmu kelak.</p>
<p>Kau tak usah merasa sedih, tidak beruntung atau gagal di hadapanku melihat kondisiku dan usiaku yang sudah bertambah tua</p>
<p>Kau harus ada didekatku, mencoba mengerti aku bahwa hidupku adalah bagimu, bagi kesuksesanmu, seperti apa yang kulakukan pada saat kau lahir.</p>
<p>Bantulah aku untuk berjalan, bantulah aku pada akhir hidupku dengan cinta dan kesabaran. Satu hal yang membuatku harus berterimakasih padamu adalah senyum dan kecintanmu padaku.</p>
<p>Aku mencintaimu anakku………</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pramulya.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pramulya.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pramulya.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pramulya.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pramulya.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pramulya.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pramulya.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pramulya.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pramulya.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pramulya.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pramulya.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pramulya.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pramulya.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pramulya.wordpress.com/93/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pramulya.wordpress.com&amp;blog=6659662&amp;post=93&amp;subd=pramulya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pramulya.wordpress.com/2010/03/27/anakku-yang-kusayangi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/30e407ff6fc41afc24cd0908479178c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pramulya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah seorang pria yang putus asa</title>
		<link>http://pramulya.wordpress.com/2010/03/27/kisah-seorang-pria-yang-putus-asa/</link>
		<comments>http://pramulya.wordpress.com/2010/03/27/kisah-seorang-pria-yang-putus-asa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Mar 2010 20:51:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pramulya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pramulya.wordpress.com/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[Alkisah, tersebutlah seorang pria yang putus asa dan ingin meninggalkan segalanya. Meninggalkan pekerjaan, hubungan, dan berhenti hidup. Ia lalu pergi ke hutan untuk bicara yang terakhir kalinya dengan Tuhan Sang Maha Pencipta. &#8220;Tuhan,&#8221; katanya. &#8220;Apakah Tuhan bisa memberi saya satu alasan yang baik untuk jangan berhenti hidup dan menyerah ?&#8221; Jawaban Tuhan sangat mengejutkan. &#8220;Coba [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pramulya.wordpress.com&amp;blog=6659662&amp;post=91&amp;subd=pramulya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alkisah, tersebutlah seorang pria yang putus asa dan ingin meninggalkan segalanya.<br />
Meninggalkan pekerjaan, hubungan, dan berhenti hidup.<br />
Ia lalu pergi ke hutan untuk bicara yang terakhir kalinya dengan Tuhan Sang Maha Pencipta.</p>
<p>&#8220;Tuhan,&#8221; katanya. &#8220;Apakah Tuhan bisa memberi saya satu alasan yang baik<br />
untuk jangan berhenti hidup dan menyerah ?&#8221;</p>
<p>Jawaban Tuhan sangat mengejutkan.<br />
&#8220;Coba lihat ke sekitarmu. Apakah kamu melihat pakis dan bambu ?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Ya,&#8221; jawab pria itu.</p>
<p>&#8220;Ketika menanam benih pakis dan benih bambu, Aku merawat keduanya secara sangat baik.<br />
Aku memberi keduanya cahaya. Memberikan air. Pakis tumbuh cepat di bumi.<br />
Daunnya yang hijau segar menutupi permukaan tanah hutan.<br />
Sementara itu, benih bambu tidak menghasilkan apapun.<br />
Tapi Aku tidak menyerah.</p>
<p>&#8220;Pada tahun kedua, pakis tumbuh makin subur dan banyak,<br />
tapi belum ada juga yang muncul dari benih bambu.<br />
Tapi Aku tidak menyerah.</p>
<p>&#8220;Di tahun ketiga, benih bambu belum juga memunculkan sesuatu.<br />
Tapi Aku tidak menyerah.</p>
<p>Di tahun ke-4, masih juga belum ada apapun dari benih bambu.<br />
Aku tidak menyerah,&#8221; kataNya.</p>
<p>&#8220;Di tahun kelima, muncul sebuah tunas kecil.<br />
Dibanding dengan pohon pakis, tunas itu tampak kecil dan tidak bermakna.<br />
Tapi 6 bulan kemudian, bambu itu menjulang sampai 100 kaki.<br />
Untuk menumbuhkan akar itu perlu waktu 5 tahun.<br />
Akar ini membuat bambu kuat dan memberi apa yang diperlukan bambu untuk bertahan hidup.</p>
<p>Aku tak akan memberi cobaan yang tak sangup diatasi ciptaan-Ku, &#8220;kata Tuhan kepada pria itu.</p>
<p>&#8220;Tahukah kamu, di saat menghadapi semua kesulitan dan perjuangan berat ini,<br />
kamu sebenarnya menumbuhkan akar-akar?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tidak meninggalkan bambu itu. Aku juga tak akan meninggalkanmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jangan membandingkan diri sendiri dengan orang lain,&#8221; kata Tuhan.<br />
&#8220;Bambu mempunyai tujuan yang beda dengan pakis. Tapi keduanya membuat hutan menjadi indah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Waktumu akan datang. Kamu akan menanjak dan menjulang tinggi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya akan menjulang setinggi apa ?&#8221; tanya pria itu.</p>
<p>&#8220;Setinggi apa pohon bambu bisa menjulang?&#8221; tanya Tuhan</p>
<p>&#8220;Setinggi yang bisa dicapainya,&#8221; jawab pria itu.</p>
<p>&#8220;Ya, benar! Agungkan dan muliakan nama-Ku dengan menjadi yang terbaik,<br />
meraih yang tertinggi sesuai kemampuanmu,&#8221; kata Tuhan.</p>
<p>Pria itu lalu meninggalkan hutan dan mengisahkan pengalaman hidup yang berharga ini.</p>
<p>Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo`a): &#8220;Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir&#8221;. (QS.Al Baqarah : 286)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pramulya.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pramulya.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pramulya.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pramulya.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pramulya.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pramulya.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pramulya.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pramulya.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pramulya.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pramulya.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pramulya.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pramulya.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pramulya.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pramulya.wordpress.com/91/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pramulya.wordpress.com&amp;blog=6659662&amp;post=91&amp;subd=pramulya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pramulya.wordpress.com/2010/03/27/kisah-seorang-pria-yang-putus-asa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/30e407ff6fc41afc24cd0908479178c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pramulya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rahasia Lubang Hidung</title>
		<link>http://pramulya.wordpress.com/2009/12/02/rahasia-lubang-hidung/</link>
		<comments>http://pramulya.wordpress.com/2009/12/02/rahasia-lubang-hidung/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Dec 2009 00:58:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pramulya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pramulya.wordpress.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[Our noses have left and right nostrils. Are these nostrils having the same function for inhaling (breathe in) and exhaling (breathe out)? Kita memiliki hidung berlubang disebelah kiri dan disebelah kanan, apakah fungsinya sama untuk menghirup dan membuang nafas? Actually it&#8217;s not the same and we can feel the difference. Accordingly, the right side represents [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pramulya.wordpress.com&amp;blog=6659662&amp;post=85&amp;subd=pramulya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Our noses have left and right nostrils. Are these nostrils having the same function for inhaling (breathe in) and exhaling (breathe out)?</p>
<p>Kita memiliki hidung berlubang disebelah kiri dan disebelah kanan, apakah fungsinya sama untuk menghirup dan membuang nafas?</p>
<p>Actually it&#8217;s not the same and we can feel the difference. Accordingly, the right side represents the sun and the left side represents the moon.</p>
<p>Sebenarnya fungsinya tidak sama dan dapat kita rasakan bedanya; sebelah kanan mewakili matahari (mengeluarkan panas) dan sebelah kiri mewakili bulan ( mengeluarkan dingin).</p>
<p>When having headache, try to close your right nostril and use your left nostril to do breathing for about 5 min. The headache will be gone.</p>
<p>Jika sakit kepala, cobalah menutup lubang hidung sebelah kanan dan bernafaslah melalui hidung sebelah kiri dan lakukan kira-kira 5 menit, sakit kepala akan sembuh.</p>
<p>If you feel too tired, do it the opposite way. Close your left nostril and breathe through your right nostril. After a while, you will feel refresh again.</p>
<p>Anda merasa lelah, lakukan bolak-balik. Tutup lubang hidung sebelah kiri dan bernafaslah melalui hidung sebelah kanan. Tak lama kemudian, Anda akan merasakan segar kembali.</p>
<p>Because the right side belongs to heat, so it gets hot easily. The left side gets cold easily.</p>
<p>Sebab lubang hidung sebelah kanan mengeluarkan panas, sehingga gampang sekali panas, Lubang hidung sebelah kiri mengeluarkan dingin..</p>
<p>Women breathe mainly with their left nostril, so they get calm down easily.</p>
<p>Perempuan bernafas lebih dengan hidung sebelah kiri, sehingga hatinya gampang sekali dingin.</p>
<p>Men breathe mostly with their right nostril, so they get angry easily.</p>
<p>Laki-laki bernafas lebih dengan hidung sebelah kanan, sehingga gampang sekali marah.</p>
<p>When we wake up, do we notice which nostril breathes faster? Is it the left side or the right side?</p>
<p>Apakah Anda ada memperhatikan pada saat bangun, lubang hidung sebelah mana yang bernafas lebih cepat ? Sebelah kiri atau kanan ?</p>
<p>If the left nostril breathes faster, you will feel very tired. Close your left nostril and use your right nostril for breathing and you will get refresh quickly.</p>
<p>Jika lubang hidung sebelah kiri bernafas lebih cepat, Anda akan merasa sangat lelah. Tutuplah lubang hidung sebelah kiri dan gunakan lubang hidung sebelah kanan untuk bernafas, Anda akan merasa segar kembali dengan cepat.</p>
<p>You can teach your kids about it. The effect of breathing therapy is much better for adults.</p>
<p>Cara tersebut boleh diajarkan kepada anak-anak, tetapi efeknya akan lebih baik diterapkan kepada orang dewasa.</p>
<p>I used to have painful headache. When consulted a doctor, he told me jokingly,&#8221; You will be all right if you get married!&#8221; The doctor did not bullshit me as he had his theory and supported with testimony.</p>
<p>Saya biasanya merasakan sakit kepala, dan rasanya nyeri. Kemudian saya berobat ke dokter dan beliau mengatakan ,&#8221;Anda akan sembuh jika berumah tangga!&#8221; Dokter itu tidak bicara omong kosong. Apa yang dia sampaikan didukung dengan teori dan kesaksian.</p>
<p>&#8220;During that time, I used to have headache every night and I was not able to study. I took medicine but I was not cured. &#8220;</p>
<p>&#8220;Pada saat itu, setiap malam saya merasakan sakit kepala dan tidak dapat belajar. Saya makan obat, tetapi tidak dapat sembuh..&#8221;</p>
<p>&#8220;One night as I sat down to medidate, I closed my right nostril and breathed with my left nostril. In less than a week, it seemed that my headache problem had left me! I continued doing it for about a month and since then there was no recurrence of headache in me.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pada suatu malam. saya duduk bersemedi dan menutup lubang hidung sebelah kanan dan bernafas dengan lubang hidung sebelah kiri.. Dalam kurang dari satu minggu, sakit kepala saya sembuh. Saya teruskan melakukannya selama 1 bulan, sejak malam itu sampai sekarang , sakit kepala saya tidak kambuh lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;This is my own experience. I used to tell others who also suffer headache to try this method as it was effective for me. It also works for those who have tried as well. This is a natural therapy, unlike taking medicines for a long time may have side effect. So, why don&#8217;t you try it out?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ini adalah yang saya alami sendiri. Saya beritahukan kepada orang lain, jika sakit kepala, boleh mencoba cara tersebut, sebab sangat efektif buat saya. Banyak orang pun telah mencoba dan berhasil. Ini adalah terapi alami, tidak seperti memakan obat dalam jangka panjang akan ada efek sampingnya. Jadi kenapa Anda tidak mencobanya ?&#8221;kata sang dokter.</p>
<p>Practice the correct ways of breathing (breathe in and breathe out) and your body will be in a very relaxing condition.<br />
Selalulah mecoba terapi perrnafasan ini, tubuh Anda akan merasa sangat tenang sekali (rileks)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pramulya.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pramulya.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pramulya.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pramulya.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pramulya.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pramulya.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pramulya.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pramulya.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pramulya.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pramulya.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pramulya.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pramulya.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pramulya.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pramulya.wordpress.com/85/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pramulya.wordpress.com&amp;blog=6659662&amp;post=85&amp;subd=pramulya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pramulya.wordpress.com/2009/12/02/rahasia-lubang-hidung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/30e407ff6fc41afc24cd0908479178c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pramulya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Everything Happen for Good Reason</title>
		<link>http://pramulya.wordpress.com/2009/10/30/everything-happen-for-good-reason/</link>
		<comments>http://pramulya.wordpress.com/2009/10/30/everything-happen-for-good-reason/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 02:07:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pramulya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pramulya.wordpress.com/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[Banyak sekali kejadian di kehidupan kita yang tanpa kita sadari ternyata banyak mengandung nilai positif yang tinggi. Pernah suatu ketika kejadian ini menimpa saya, waktu itu perjalanan pulang dari Tulung Agung ke Surabaya. Di daerah Mojokerto tiba-tiba lampu mobil mati dengan sendirinya, disaat lampu mobil mati saya berusaha merapat ke kiri, kaget banget di kananku  [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pramulya.wordpress.com&amp;blog=6659662&amp;post=74&amp;subd=pramulya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak sekali kejadian di kehidupan kita yang tanpa kita sadari ternyata banyak mengandung nilai positif yang tinggi. Pernah suatu ketika kejadian ini menimpa saya, waktu itu perjalanan pulang dari Tulung Agung ke Surabaya. Di daerah Mojokerto tiba-tiba lampu mobil mati dengan sendirinya, disaat lampu mobil mati saya berusaha merapat ke kiri, kaget banget di kananku  pengendara motor perempuan usianya sekitar 35 tahun melaju kencang, di depan ada bus R**** dengan kecepatan tinggi kemudian &#8220;BRAK&#8221; terjadilah tabrakan, nasib &#8230; perempuan itu kepalanya pecah terlindas ban bus R****.  Jika waktu itu saya melaju dengan kecepatan yang sama dengan dia, pasti saya yang kena tabrak. Saya bingung kenapa juga lampu mobil mati dengan sendirinya padahal baru ganti, saya selalu berfikir sederhana &#8220;Everything Happen for Good Reason&#8221;, matur sembah nuwun ya Gusti Allah engkau telah mengingatkanku agar selalu berhati hati &#8220;Ojo Dumeh Eling lan Waspodo&#8221;.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pramulya.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pramulya.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pramulya.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pramulya.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pramulya.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pramulya.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pramulya.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pramulya.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pramulya.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pramulya.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pramulya.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pramulya.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pramulya.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pramulya.wordpress.com/74/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pramulya.wordpress.com&amp;blog=6659662&amp;post=74&amp;subd=pramulya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pramulya.wordpress.com/2009/10/30/everything-happen-for-good-reason/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/30e407ff6fc41afc24cd0908479178c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pramulya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ilmu Makrifat vs Tangga</title>
		<link>http://pramulya.wordpress.com/2009/10/24/ilmu-makrifat-vs-tangga/</link>
		<comments>http://pramulya.wordpress.com/2009/10/24/ilmu-makrifat-vs-tangga/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 13:50:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pramulya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Makrifat]]></category>
		<category><![CDATA[syariat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pramulya.wordpress.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[Sudut pandang saya mengenai ilmu makrifat adalah sesuatu yang berkaitan dengan rahasia rahasia ghaib ALLAH, sedangkan ilmu syariat adalah  sesuatu yang nyata adanya.  Suatu ketika dalam sebuah forum ulama pernah ada sebuah perdebatan sengit mengenai makrifat dan syariat, dalam panasnya debat seorang tokoh ulama nyeletuk dengan entengnya, &#8220;wes ngene ae rek kamu pake saja ilmu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pramulya.wordpress.com&amp;blog=6659662&amp;post=68&amp;subd=pramulya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudut pandang saya mengenai ilmu makrifat adalah sesuatu yang berkaitan dengan rahasia rahasia ghaib ALLAH, sedangkan ilmu syariat adalah  sesuatu yang nyata adanya.  Suatu ketika dalam sebuah forum ulama pernah ada sebuah perdebatan sengit mengenai makrifat dan syariat, dalam panasnya debat seorang tokoh ulama nyeletuk dengan entengnya, &#8220;wes ngene ae rek kamu pake saja ilmu makrifatmu buat naek kelantai dua, sedangkan saya make tangga aja nanti kita lihat, dahulu siapa kamu apa aku ?&#8221;, hahaha para ulama langsung terdiam, la wong kita ini hidup di dunia nyata ya sudah jalanin syariat yang bener gak usah aneh-aneh.  Padahal saya tau kalo ulama yang nyeletuk ini sudah sampe kesana, maaf atas kelancangan saya karena ngintip, tetapi dia masih menjalankan fungsinya menegakkan syariat. Terus yang jadi pertanyaan kapan saya benar benar memakai tangga yang disarankan beliau. Soon or later i&#8217;ll be Gus &#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pramulya.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pramulya.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pramulya.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pramulya.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pramulya.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pramulya.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pramulya.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pramulya.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pramulya.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pramulya.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pramulya.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pramulya.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pramulya.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pramulya.wordpress.com/68/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pramulya.wordpress.com&amp;blog=6659662&amp;post=68&amp;subd=pramulya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pramulya.wordpress.com/2009/10/24/ilmu-makrifat-vs-tangga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/30e407ff6fc41afc24cd0908479178c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pramulya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Misteri Batara Semar</title>
		<link>http://pramulya.wordpress.com/2009/10/15/misteri-batara-semar/</link>
		<comments>http://pramulya.wordpress.com/2009/10/15/misteri-batara-semar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 17:22:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pramulya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Misteri Batara Semar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pramulya.wordpress.com/2009/10/15/misteri-batara-semar/</guid>
		<description><![CDATA[Misteri Batara Semar MAYA adalah sebuah cahaya hitam. Cahaya hitam tersebut untuk menyamarkan segala sesuatu. Yang ada itu sesungguhnya tidak ada. Yang sesungguhnya ada, ternyata bukan. Yang bukan dikira iya. Yang wanter (bersemangat) hatinya, hilang kewanterane (semangatnya), sebab takut kalau keliru. Maya, atau Ismaya, cahaya hitam, juga disebut SEMAR artinya tersamar, atau tidak jelas. Di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pramulya.wordpress.com&amp;blog=6659662&amp;post=64&amp;subd=pramulya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Misteri Batara Semar</p>
<p>MAYA adalah sebuah cahaya hitam. Cahaya hitam tersebut untuk menyamarkan segala sesuatu.<br />
Yang ada itu sesungguhnya tidak ada.<br />
Yang sesungguhnya ada, ternyata bukan.<br />
Yang bukan dikira iya.<br />
Yang wanter (bersemangat) hatinya, hilang kewanterane (semangatnya), sebab takut kalau keliru.<br />
Maya, atau Ismaya, cahaya hitam, juga disebut SEMAR artinya tersamar, atau tidak jelas.</p>
<p>Di dalam cerita pewayangan, Semar adalah putra Sang Hyang Wisesa, ia diberi anugerah mustika manik astagina, yang mempunyai 8 daya, yaitu:</p>
<p>tidak pernah lapar ,<br />
tidak pernah mengantuk ,<br />
tidak pernah jatuh cinta ,<br />
tidak pernah bersedih ,<br />
tidak pernah merasa capek ,<br />
tidak pernah menderita sakit ,<br />
tidak pernah kepanasan ,<br />
tidak pernah kedinginan ,</p>
<p>kedelapan daya tersebut diikat pada rambut yang ada di ubun-ubun atau kuncung. Semar atau Ismaya, diberi beberapa gelar yaitu; Batara Semar, Batara Ismaya, Batara Iswara, Batara Samara, Sanghyang Jagad Wungku, Sanghyang Jatiwasesa, Sanghyang Suryakanta. Ia diperintahkan untuk menguasai alam Sunyaruri, atau alam kosong, tidak diperkenankan menguasi manusia di alam dunia.</p>
<p>Di alam Sunyaruri, Batara Semar dijodohkan dengan Dewi Sanggani putri dari Sanghyang Hening. Dari hasil perkawinan mereka, lahirlah sepuluh anak, yaitu: Batara Wungkuam atau Sanghyang Bongkokan, Batara Siwah, Batara Wrahaspati, Batara Yamadipati, Batara Surya, Batara Candra, Batara Kwera, Batara Tamburu, Batara Kamajaya dan Dewi Sarmanasiti. Anak sulung yang bernama Batara Wungkuam atau Sanghyang Bongkokan mempunyai anak cebol, ipel-ipel dan berkulit hitam. Anak tersebut diberi nama Semarasanta dan diperintahkan turun di dunia, tinggal di padepokan Pujangkara. Semarasanta ditugaskan mengabdi kepada Resi Kanumanasa di Pertapaan Saptaarga.<br />
Dikisahkan Munculnya Semarasanta di Pertapaan Saptaarga, diawali ketika Semarasanta dikejar oleh dua harimau, ia lari sampai ke Saptaarga dan ditolong oleh Resi Kanumanasa. Ke dua Harimau tersebut diruwat oleh Sang Resi dan ke duanya berubah menjadi bidadari yang cantik jelita. Yang tua bernama Dewi Kanestren dan yang muda bernama Dewi Retnawati. Dewi Kanestren diperistri oleh Semarasanta dan Dewi Retnawati menjadi istri Resi Kanumanasa. Mulai saat itu Semarasanta mengabdi di Saptaarga dan diberi sebutan Janggan Semarsanta.<br />
Sebagai Pamong atau abdi, Janggan Semarasanta sangat setia kepada Bendara (tuan)nya. Ia selalu menganjurkan untuk menjalani laku prihatin dengan berpantang, berdoa, mengurangi tidur dan bertapa, agar mencapai kemuliaan. Banyak saran dan petuah hidup yang mengarah pada keutamaan dibisikan oleh tokoh ini. Sehingga hanya para Resi, Pendeta atau pun Ksatria yang kuat menjalani laku prihatin, mempunyai semangat pantang menyerah, rendah hati dan berperilaku mulia, yang kuat di emong oleh Janggan Semarasanta.<br />
Dapat dikatakan bahwa Janggan Semarasanta merupakan rahmat yang tersembunyi. Siapa pun juga yang diikutinya, hidupnya akan mencapai puncak kesuksesan yang membawa kebahagiaqan abadi lahir batin. Dalam catatan kisah pewayangan, ada tujuh orang yang kuat di emong oleh Janggan Semarasanta, yaitu; Resi Manumanasa sampai enam keturunannya, Sakri, Sekutrem, Palasara, Abiyasa, Pandudewanata dan sampai Arjuna.<br />
Jika sedang marah kepada para Dewa, Janggan Semarasanta katitisan oleh eyangnya yaitu Batara Semar. Jika dilihat secara fisik, Semarasanta adalah seorang manusia cebol jelek dan hitam, namun sesungguhnya yang ada dibalik itu ia adalah pribadi dewa yang bernama Batara Semar atau Batara Ismaya.</p>
<p>Karena Batara Semar tidak diperbolehkan menguasai langsung alam dunia, maka ia memakai wadag Janggan Semarasanta sebagai media manitis (tinggal dan menyatu), sehingga akhirnya nama Semarasanta jarang disebut, ia lebih dikenal dengan nama Semar.<br />
Seperti telah ditulis di atas, Semar atau Ismaya adalah penggambaran sesuatau yang tidak jelas tersamar.<br />
Yang ada itu adalah Semarasanta, tetapi sesungguhnya Semarasanta tidak ada.<br />
Yang sesungguhnya ada adalah Batara Semar, namun ia bukan Batara Semar, ia adalah manusia berbadan cebol, berkulit hitam yang bernama Semarasanta.<br />
Memang benar, ia adalah Semarasanta, tetapi yang diperbuat bukan semata-mata perbuatan Semarasanta.<br />
Jika sangat yakin bahwa ia Semarasanta, tiba-tiba berubah keyakinan bahwa ia adalah Batara Semar, dan akhirnya tidak yakin, karena takut keliru. Itulah sesuatu yang belum jelas, masih diSAMARkan, yang digambarkan pada seorang tokoh Semar.<br />
SEMAR adalah sebuah misteri, rahasia Sang Pencipta. Rahasia tersebut akan disembunyikan kepada orang-orang yang egois, tamak, iri dengki, congkak dan tinggi hati, namun dibuka bagi orang-orang yang sabar, tulus, luhur budi dan rendah hati. Dan orang yang di anugerahi Sang Rahasia, atau SEMAR, hidupnya akan berhasil ke puncak kebahagiaan dan kemuliaan nan abadi.</p>
<p>Semar dan Wahyu</p>
<p>Di dalam tulisan sebelumnya yang berjudul &#8220;Batara Semar,&#8221; telah dipaparkan bahwa Batara Semar atau Batara Ismaya, yang hidup di alam Sunyaruri, sering turun ke dunia dan manitis di dalam diri Janggan Semarasanta, seorang abdi dari Pertapaan Saptaarga. Mengingat bahwa bersatunya antara Batara Ismaya dan Janggan Semarasanta yang kemudian populer dengan nama Semar merupakan penyelenggaraan Illahi, maka munculnya tokoh Semar diterjemahkan sebagai kehadiran Sang Illahi dalam kehidupan nyata dengan cara yang tersamar, penuh misteri.<br />
Dari bentuknya saja, tokoh ini tidak mudah diterka. Wajahnya adalah wajah laki-laki. Namun badannya serba bulat, payudara montok, seperti layaknya wanita. Rambut putih dan kerut wajahnya menunjukan bahwa ia telah berusia lanjut, namun rambutnya dipotong kuncung seperti anak-anak.<br />
Bibirnya berkulum senyum, namun mata selalu mengeluarkan air mata (ndrejes). Ia menggunakan kain sarung bermotif kawung, memakai sabuk tampar, seperti layaknya pakaian yang digunakan oleh kebanyakan abdi. Namun bukankah ia adalah Batara Ismaya atau Batara Semar, seorang Dewa anak Sang Hyang Wisesa, pencipta alam semesta.<br />
Dengan penggambaran bentuk yang demikian, dimaksudkan bahwa Semar selain sosok yang sarat misteri, ia juga merupakan simbol kesempurnaan hidup. Di dalam Semar tersimpan karakter wanita, karakter laki-laki, karakter anak-anak, karakter orang dewasa atau orang tua, ekspresi gembira dan ekspresi sedih bercampur menjadi satu.<br />
Kesempurnaan tokoh Semar semakin lengkap, ditambah dengan jimat Mustika Manik Astagina pemberian Sang Hyang Wasesa, yang disimpan di kuncungnya. Jimat tersebut mempunyai delapan daya yaitu; terhindar dari lapar, ngantuk, asmara, sedih, capek, sakit, panas dan dingin. Delapan macam kasiat Mustika Manik Astagina tersebut dimaksudkan untuk menggambarkan bahwa, walaupun Semar hidup di alam kodrat, ia berada di atas kodrat. Ia adalah simbol misteri kehidupan, dan sekaligus kehidupan itu sendiri.<br />
Jika dipahami bahwa hidup merupakan anugerah dari Sang Maha Hidup, maka Semar merupakan anugerah Sang Maha Hidup yang hidup dalam kehidupan nyata. Tokoh yang diikuti Semar adalah gambaran riil, bahwa sang tokoh tersebut senantiasa menjaga, mencintai dan menghidupi hidup itu sendiri, hidup yang berasal dari Sang Maha Hidup. Jika hidup itu dijaga, dipelihara dan dicintai maka hipup tersebut akan berkembang mencapai puncak dan menyatu kepada Sang Sumber Hidup, manunggaling kawula lan Gusti.<br />
Pada upaya bersatunya antara kawula dan Gusti inilah, Semar menjadi penting. Karena berdasarkan makna yang disimbolkan dan terkandung dalam tokoh Semar, maka hanya melalui Semar, bersama Semar dan di dalam Semar, orang akan mampu mengembangkan hidupnya hingga mencapai kesempurnaan dan menyatu dengan Tuhannya.<br />
Selain sebagai simbol sebuah proses kehidupan yang akhirnya dapat membawa kehidupan seseorang kembali dan bersatu kepada Sang Sumber Hidup, Semar menjadi tanda sebuah rahmat Illahi (wahyu) kepada titahnya, Ini disimbolkan dengan kepanjangan nama dari Semar, yaitu Badranaya. Badra artinya Rembulan, atau keberuntungan yang baik sekali. Sedangkan Naya adalah perilaku kebijaksanaan. Semar Badranaya mengandung makna, di dalam perilaku kebijaksanaan, tersimpan sebuah keberuntungan yang baik sekali, bagai orang kejatuhan rembulan atau mendapatkan wahyu.<br />
Dalam lakon wayang, yang bercerita tentang Wahyu, tokoh Semar Badranaya menjadi rebutan para raja, karena dapat dipastikan, bahwa dengan memiliki Semar Badranaya maka wahyu akan berada dipihaknya.<br />
Menjadi menarik bahwa ada dua sudut pandang yang berbeda, ketika para satria raja maupun pendeta memperebutkan Semar Badranaya dalam usahanya mendapatkan wahyu. Sudut pandang pertama, mendudukkan Semar Badranaya sebagai sarana phisik untuk sebuah target. Mereka meyakini bahwa dengan memboyong Semar, wahyu akan mengikutnya sehingga dengan sendirinya sang wahyu didapatkan. Sudut pandang ini kebanyakan dilakukan oleh kelompok Kurawa atau tokoh-tokoh dari sabrang, atau juga tokoh lain yang hanya menginkan jalan pintas, mencari enaknya sendiri. Yang penting mendapatkan wahyu, tanpa harus menjalani laku yang rumit dan berat.<br />
Sudut pandang ke dua adalah mereka yang mendudukan Semar Badranaya sebagai sarana batin untuk sebuah proses. Konsekwensinya bahwa mereka mau membuka hati agar Semar Badranaya masuk, tinggal dan menyertai kehidupannya, sehingga dapat berproses bersama meraih Wahyu. Penganut pandangan ini adalah kelompok dari keturunan Saptaarga. Dari ke dua sudut pandang itulah dibangun konflik, dalam usahanya memperebutkan turunnya wahyu. Dan tentu saja berakhir dengan kemenangan kelompok Saptaarga.<br />
Mengapa wahyu selalu jatuh kepada keturunan Saptaarga? Karena keturunan Saptaarga selalu mengajarkan perilaku kebijaksannan, semenjak Resi Manumanasa hingga sampai Harjuna. Di kalangan Saptaarga ada warisan tradisi sepiritual yang kuat dan konsisten dalam hidupnya. Tradisi tersebut antara lain; sikap rendah hati, suka menolong sesama, tidak serakah, melakukan tapa, mengurangi makan dan tidur dan laku lainnya. Karena tradisi-tradisi itulah, maka keturunan Saptaarga kuat diemong oleh Semar Badranaya.<br />
Masuknya Semar Badranaya dalam setiap kehidupan, menggambarkan masuknya Sang Penyelenggara Illahi di dalam hidup itu sendiri. Maka sudah sepantasnya, anugerah Ilahi yang berujud wahyu akan bersemayam di dalamnya. Karena apa yang tersembunyi di balik tokoh Semar adalah Wahyu. Wahyu yang disembunyikan bagi orang tamak dan dibuka bagi orang yang hatinya merunduk dan melakukan perilaku kebijaksanaan. Seperti yang dilakukan keturunan Saptaarga</p>
<p>Bocah Bajang dan Semar</p>
<p>Bocah Bajang nggiring angin<br />
anawu banyu segara<br />
ngon-ingone kebo dhungkul<br />
sa sisih sapi gumarang</p>
<p>Teks empat baris yang menggambarkan Bocah Bajang (anak yang tidak bisa besar atau cacat) tersebut merupakan salah satu Jineman atau lagu yang selalu dikumandangkan pada pegelaran Wayang Purwa, khusus untuk mengiringi munculnya tokoh Semar pada waktu goro-goro. Hal tersebut tidak secara kebetulan, tetapi merupakan sebuah ekspresi kreatif untuk menyampaikan sesuatu makna yang dianggap penting, melalui lagu Bocah Bajang dan wayang Semar.<br />
Tokoh Semar mempunyai sifat pribadi yang mendua. Ia adalah dewa bernama Batara Ismaya, yang manitis (tinggal dan hidup) pada seorang manusia cebol, berkulit hitam, bernama Ki Semarasanta. Bentuk wayangnya pun dibuat mendua: bagian kepala adalah laki-laki, tetapi payudara dan pantatnya adalah perempuan. Rambutnya dipotong kuncung seperti anak-anak, tetapi sudah memutih seperti orang tua.<br />
Bibirnya tersenyum menggambarkan kegembiraan dan kebahagiaan, tetapi matanya selalu basah seperti sedang menangis sedih. Oleh karena serba misteri, tokoh Semar dapat dianggap dewa, dapat pula dianggap manusia. Ya laki-laki, ya perempuan, ya orang tua dan sekaligus kanak-kanak, sedang bersedih tetapi dalam waktu yang sama juga sedang bergembira. Maka tokoh ini diberi nama Semar asal kata samar, yang berarti tidak jelas.<br />
Sebuah dugaan, tokoh Semar dalam Pewayangan merupakan perwujudan dari kerinduan manusia dalam pengembaraannya menyelami yang Ilahi. Dikarenakan Hyang Maha Sempurna itu tidak kelihatan, tidak bisa diraba, jauh tak terbatas, dekat tidak bersentuhan, maka sulitlah untuk menggambarkannya. Oleh karena kekurangannya, kelemahannya dan cacat-cacatnya, manusia hanya dapat menggambarkan ketidakmampuannya menggambarkan yang Ilahi. Maka yang muncul kemudian adalah bentuk yang tidak sempurna.<br />
Lahirnya karya yang disengaja tidak sempurnya seperti wayang Ki Semarasanta atau Semar, merupakan sebuah konsep kerendahan hati, penyadaran diri dan keterbukaan pribadi akan kelemahannya, kekurangannya, cacat-cacatnya. Karena dengan sikap tersebut manusia diyakini mampu nglenggahake (menghadirkan dan mendudukkan) yang Maha Sempurna.<br />
Selain tokoh Semar atau Ki Semarasanta, manusia cebol berkulit hitam yang dimaksudkan untuk nglenggahake kesempurnaan yaitu Bathara Ismaya, di pewayangan juga ada tokoh lain yang dibuat bajang, kerdil, untuk tujuan yang sama yaitu: Sang Hyang Pada Wenang dan Dewa Ruci.<br />
Untuk menandaskan munculnya tokoh Semar atau Ki Semarasanta, manusia cacat yang berpribadi mendua, diiringi dengan lagu Bocah Bajang sedang membawa binatang piaraan yang mempunyai sifat mendua pula. Yaitu Seekor Kerbau, binatang yang bodoh dan tumpul otaknya, menggambarkan kelemahan manusia. Dan seekor Sapi Gumarang, binatang yang cerdas dan mempunyai tanduk sangat tajam, menggambarkan ketajaman manusia akan misteri Ilahi.<br />
Dari paparan tersebut tokoh Semar yang diekspresikan ke dalam bentuk wayang dan tokoh Bocah Bajang yang di ekspresikan ke dalam lagu jineman, mempunyai inti makna yang sama. Ke duanya memberikan gambaran bahwa dalam diri manusia yang serba kekurangan, lemah dan cacat bertahtalah Yang Maha Sempurna.<br />
Dalam usahanya mengharmoniskan antara sifat yang serba kurang, lemah dan cacat di satu sisi dan sifat yang serba sempurna di sisi yang lain, manusia membutuhkan perjuangan panjang, sepanjang umur manusia itu sendiri. Seperti Bocah Bajang nggiring angin dan nawu segara.</p>
<p>Semar , Gareng , Petruk , Bagong .</p>
<p>Dalam perkembangan selanjutnya, hadirnya Semar sebagai pamomong keturunan Saptaarga tidak sendirian. Ia ditemani oleh tiga anaknya, yaitu; Gareng, Petruk, Bagong. Ke empat abdi tersebut dinamakan Panakawan. Dapat disaksikan, hampir pada setiap pegelaran wayang kulit purwa, akan muncul seorang ksatria keturunan Saptaarga diikuti oleh Semar, Gareng, Petruk, Bagong.<br />
Cerita apa pun yang dipagelarkan, ke lima tokoh ini menduduki posisi penting. Kisah Mereka diawali mulai dari sebuah pertapaan Saptaarga atau pertapaan lainnya. Setelah mendapat berbagai macam ilmu dan nasihat-nasihat dari Sang Begawan, mereka turun gunung untuk mengamalkan ilmu yang telah diperoleh, dengan melakukan tapa ngrame. (menolong tanpa pamrih).</p>
<p>Dikisahkan, perjalanan sang Ksatria dan ke empat abdinya memasuki hutan. Ini menggambarkan bahwa sang ksatria mulai memasuki medan kehidupan yang belum pernah dikenal, gelap, penuh semak belukar, banyak binatang buas, makhluk jahat yang siap menghadangnya, bahkan jika lengah dapat mengacam jiwanya. Namun pada akhirnya Ksatria, Semar, Gareng, Petruk, Bagong berhasil memetik kemenangan dengan mengalahkan kawanan Raksasa, sehingga berhasil keluar hutan dengan selamat.<br />
Di luar hutan, rintangan masih menghadang, bahaya senantiasa mengancam. Berkat Semar dan anak-anaknya, sang Ksatria dapat menyingkirkan segala penghalang dan berhasil menyelesaikan tugas hidupnya dengan selamat.<br />
Mengapa peranan Semar dan anak-anaknya sangat menentukan keberhasilan suatu kehidupan? Sudah dipaparkan pada dua tulisan sebelumnya, bahwa Semar merupakan gambaran penyelenggaraan Illahi yang ikut berproses dalam kehidupan manusia. Untuk lebih memperjelas peranan Semar, maka tokoh Semar dilengkapi dengan tiga tokoh lainnya. Ke empat panakawan tersebut merupakan simbol dari cipta, rasa, karsa dan karya. Semar mempunyai ciri menonjol yaitu kuncung putih. Kuncung putih di kepala sebagai simbol dari pikiran, gagasan yang jernih atau cipta.<br />
Gareng mempunyai ciri yang menonjol yaitu bermata kero, bertangan cekot dan berkaki pincang. Ke tiga cacat fisik tersebut menyimbolkan rasa. Mata kero, adalah rasa kewaspadaan, tangan cekot adalah rasa ketelitian dan kaki pincang adalah rasa kehati-hatian. Petruk adalah simbol dari kehendak, keinginan, karsa yang digambarkan dalam kedua tangannya. Jika digerakkan, kedua tangan tersebut bagaikan kedua orang yang bekerjasama dengan baik. Tangan depan menunjuk, memilih apa yang dikehendaki, tangan belakang menggenggam erat-erat apa yang telah dipilih.<br />
Sedangkan karya disimbolkan Bagong dengan dua tangan yang kelima jarinya terbuka lebar, artinya selalu bersedia bekerja keras. Cipta, rasa, karsa dan karya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Cipta, rasa, karsa dan karya berada dalam satu wilayah yang bernama pribadi atau jati diri manusia, disimbolkan tokoh Ksatria.<br />
Gambaran manusia ideal adalah merupakan gambaran pribadi manusia yang utuh, dimana cipta, rasa, karsa dan karya dapat menempati fungsinya masing-masing dengan harmonis, untuk kemudian berjalan seiring menuju cita-cita yang luhur. Dengan demikian menjadi jelas bahwa antara Ksatria dan panakawan mempunyai hubungan signifikan. Tokoh ksatria akan berhasil dalam hidupnya dan mencapai cita-cita ideal jika didasari sebuah pikiran jernih (cipta), hati tulus (rasa), kehendak, tekad bulat (karsa) dan mau bekerja keras (karya).<br />
Simbolisasi ksatria dan empat abdinya, serupa dengan &#8216;ngelmu&#8217; sedulur papat lima pancer. Sedulur papat adalah panakawan, lima pancer adalah ksatriya. Posisi pancer berada ditengah, diapit oleh dua saudara tua (kakang mbarep, kakang kawah) dan dua saudara muda (adi ari-ari dan adi wuragil). Ngelmu sedulur papat lima pancer lahir dari konsep penyadaran akan awal mula manusia diciptakan dan tujuan akhir hidup manusia (sangkan paraning dumadi).<br />
Awal mula manusia diciptakan di awali dari saat-saat menjelang kelahiran. Sebelum sang bayi (bayi, dalam konteks ini adalah pancer) lahir dari rahim ibu, yang muncul pertama kali adalah rasa cemas si ibu. Rasa cemas itu dinamakan Kakang mbarep. Kemudian pada saat menjelang bayi itu lahir, keluarlah cairan bening atau banyu kawah sebagai pelicin, untuk melindungi si bayi, agar proses kelahiran lancar dan kulit bayi yang lembut tidak lecet atau terluka. Banyu kawah itu disebut Kakang kawah. Setelah bayi lahir akan disusul dengan keluarnya ari-ari dan darah. Ari-ari disebut Adi ari-ari dan darah disebut Adi wuragil.<br />
Ngelmu sedulur papat lima pancer memberi tekanan bahwa, manusia dilahirkan ke dunia ini tidak sendirian. Ada empat saudara yang mendampingi. Pancer adalah suksma sejati dan sedulur papat adalah raga sejati. Bersatunya suksma sejati dan raga sejati melahirkan sebuah kehidupan.<br />
Hubungan antara pancer dan sedulur papat dalam kehidupan, digambarkan dengan seorang sais mengendalikan sebuah kereta, ditarik oleh empat ekor kuda, yang berwarna merah, hitam, kuning dan putih. Sais kereta melambangkan kebebasan untuk memutuskan dan berbuat sesuatu.<br />
Kuda merah melambangkan energi, semangat, kuda hitam melambangkan kebutuhan biologis, kuda kuning melambangkan kebutuhan rohani dan kuda putih melambangkan keheningan, kesucian. Sebagai sais, tentunya tidak mudah mengendalikan empat kuda yang saling berbeda sifat dan kebutuhannya. Jika sang sais mampu mengendalikan dan bekerjasama dengan ke empat ekor kudanya dengan baik dan seimbang, maka kereta akan berjalan lancar sampai ke tujuan akhir. Sang Sangkan Paraning Dumadi.</p>
<p>Panakawan</p>
<p>Di dalam cerita Pewayangan khususnya Yogyakarta dan Surakarta dikenal adanya tokoh Panakawan. Pana artinya mengetahui, memahami permasalahan yang dihadapi dan mampu memberikan solusi-solusinya. Sedangkan Kawan atau sekawan selain berarti berjumlah empat, juga dapat dimaknai sebagai teman atau sahabat. Mereka adalah Semar beserta ketiga anaknya, yaitu; Gareng, anak yang paling tua, Petruk anak kedua dan yang bungsu bernama Bagong.<br />
Tugas utama panakawan adalah menghantar dan memomong tokoh ksatria dalam mencari dan mencapai cita-cita hidupnya. Hubungan antara panakawan dan tokoh ksatria adalah hubungan yang sangat lentur. Kadang-kadang hubungan mereka bagaikan abdi dan bendara, yang melayani dan yang dilayani.<br />
Ada kalanya hubungan mereka seperti layaknya raja dan rakyatnya, gusti dan kawula, yang disembah dan yang menyembah Namun yang lebih tepat hubungan antara Panakawan dan ksatria bagaikan kedua sahabat yang saling berkomunikasi, berinteraksi, bertukar pendapat serta pikirannya untuk menyelesaikan dan menyingkirkan masalah-masalah yang menghalangi dalam usahanya mencapai sebuah cita-cita. Mereka saling asah (mengasah budi dan pikiran), asih (mengasihi dan mencintai), asuh (menjaga dan memelihara).</p>
<p>Keberhasilan tokoh ksatria dalam mencapai cita-citanya sangat bergantung kepada panakawan. Jika sang ksatria bersikap rendah hati mampu membina hubungan yang harmonis dengan panakawan, mau membuka hati untuk mendengarkan dan melaksanakan saran dari tokoh panakawan, dan rela hidup miskin, niscaya keberhasilan akan tercapai. Namun jika terjadi sebaliknya, kegagalanlah yang didapat. Karena begitu dominannya peran panakawan dalam menentukan keberhasilan sang ksatria, maka kemudian muncul sebuah pertanyaan Siapakah sesungguhnya tokoh panakawan tersebut? Menyimbolkan apakah mereka? Mengapa berjumlah empat?<br />
Tidak sedikit tulisan dan pendapat yang menguraikan tokoh panakawan. Diantaranya adalah bahwa tokoh panakawan adalah Dewa atau penguasa semesta alam yang ngejawantah menjadi manusia miskin untuk bekerjasama dan membantu usaha manusia agar dapat mencapai cita-cita luhur. Ada juga yang berpendapat bahwa kemunculan tokoh panakawan ini bersamaan dengan suatu gerakan kalangan bawah yang ingin menunjukan kekuatan rakyat yang sesunguhnya.<br />
Raja dan para bangsawan (ksatria) yang berkuasa, tidak akan pernah berhasil mengantar negerinya kearah kemakmuran dan kesejahteraan jika tidak didukung dan di emong oleh rakyat. Seperti yang digambarkan dalam cerita wayang bahwa yang berhasil dan menang dalam sebuah pergulatan mendapatkan &#8216;wahyu&#8217; adalah tokoh yang senantiasa diikuti oleh panakawan.<br />
Sementara itu ada yang menguraikan bahwa ke empat panakawan tersebut merupakan simbol dari cipta, rasa, karsa dan karya. Semar mempunyai ciri menonjol yaitu kuncung putih. Kuncung putih di kepala sebagai simbol dari pikiran, gagasan yang jernih atau cipta,. Gareng mempunyai ciri yang menonjol yaitu bermata kero, bertangan cekot dan berkaki pincang. Ke tiga cacat fisik tersebut menyimbolkan rasa. Mata kero, adalah rasa kewaspadaan. Tangan cekot adalah rasa ketelitian.<br />
Kaki pincang adalah rasa kehati-hatian. Petruk adalah simbol dari kehendak, keinginan, karsa yang digambarkan dalam kedua tangannya. Tangan depan menuding dengan telunjuknya, tangan belakang dalam posisi menggenggam. Jika digerakkan, kedua tangan tersebut bagaikan kedua orang yang bekerjasama dengan baik. Tangan depan menunjuk, memilih apa yang dikehendaki, tangan belakang menggenggam erat-erat apa yang telah dipilih. Sedangkan karya disimbolkan Bagong dengan dua tangan yang kelima jarinya terbuka lebar, artinya pekerja keras.<br />
Cipta, rasa, karsa dan karya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Cipta, rasa, karsa dan karsa berada dalam satu wilayah yang bernama pribadi atau jati diri manusia, disimbolkan tokoh Ksatria. Gambaran manusia ideal adalah merupakan gambaran pribadi manusia yang utuh, dimana cipta, rasa, karsa dan karya dapat menempati fungsinya masin-masing dengan harmonis untuk kemudian berjalan seiring menuju cita-cita yang luhur. Dengan demikian menjadi jelas bahwa antara Ksatria dan panakawan mempunyai hubungan signifikan.<br />
Tokoh ksatria akan berhasil dalam hidupnya dan mencapai cita-cita ideal jika didasari sebuah pikiran jernih (cipta), hati tulus (rasa), kehendak, tekad bulat (karsa) dan mau bekerja keras (karya).</p>
<p>Diibaratkan seorang sais (jati diri manusia) mengendarai sebuah kereta yang ditarik empat ekor kuda (cipta, rasa, karsa dan karya). Bagaimana Kereta itu berjalan untuk mencapai tujuan sangat bergantung dengan kemampuan sais dalam mengendalikan dan mengoptimalkan kuda-kudanya.<br />
Jika si sais terampil niscaya ke empat kudanya akan kompak berderap berpacu menuju sasaran. Rintangan yang menghadang di jalan tidak akan membuat kereta jatuh dan tak mampu bangkit kembali. Paling-paling kereta akan mengurangi kecepatan sejenak untuk kemudian berpacu kembali.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pramulya.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pramulya.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pramulya.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pramulya.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pramulya.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pramulya.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pramulya.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pramulya.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pramulya.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pramulya.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pramulya.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pramulya.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pramulya.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pramulya.wordpress.com/64/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pramulya.wordpress.com&amp;blog=6659662&amp;post=64&amp;subd=pramulya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pramulya.wordpress.com/2009/10/15/misteri-batara-semar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/30e407ff6fc41afc24cd0908479178c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pramulya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Children Learn What They Live</title>
		<link>http://pramulya.wordpress.com/2009/09/29/children-learn-what-they-live/</link>
		<comments>http://pramulya.wordpress.com/2009/09/29/children-learn-what-they-live/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Sep 2009 23:51:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pramulya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pramulya.wordpress.com/2009/09/29/children-learn-what-they-live/</guid>
		<description><![CDATA[Children Learn What They Live (1998) by Dorothy Law Nolte (1924 &#8211; 2005) If children live with criticism, they learn to condemn. If children live with hostility, they learn to fight. If children live with fear, they learn to be apprehensive. If children live with pity, they learn to feel sorry for themselves. If children [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pramulya.wordpress.com&amp;blog=6659662&amp;post=18&amp;subd=pramulya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Children Learn What They Live (1998) by Dorothy Law Nolte (1924 &#8211; 2005)</p>
<p>If children live with criticism, they learn to condemn.<br />
If children live with hostility, they learn to fight.<br />
If children live with fear, they learn to be apprehensive.<br />
If children live with pity, they learn to feel sorry for themselves.<br />
If children live with ridicule, they learn to feel shy.<br />
If children live with jealousy, they learn to feel envy.<br />
If children live with shame, they learn to feel guilty.<br />
If children live with encouragement, they learn confidence.<br />
If children live with tolerance, they learn patience.<br />
If children live with praise, they learn appreciation.<br />
If children live with acceptance, they learn to love.<br />
If children live with approval, they learn to like themselves.<br />
If children live with recognition, they learn it is good to have a goal.<br />
If children live with sharing, they learn generosity.<br />
If children live with honesty, they learn truthfulness.<br />
If children live with fairness, they learn justice.<br />
If children live with kindness and consideration, they learn respect.<br />
If children live with security, they learn to have faith in themselves and in those about them.<br />
If children live with friendliness, they learn the world is a nice place in which to live.<br />
So what kind of children are you ?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pramulya.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pramulya.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pramulya.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pramulya.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pramulya.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pramulya.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pramulya.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pramulya.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pramulya.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pramulya.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pramulya.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pramulya.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pramulya.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pramulya.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pramulya.wordpress.com&amp;blog=6659662&amp;post=18&amp;subd=pramulya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pramulya.wordpress.com/2009/09/29/children-learn-what-they-live/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/30e407ff6fc41afc24cd0908479178c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pramulya</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
